Cinta Tanah Air dari Hati Kemanusiaan: Pelajaran Habib Luthfiy bin Ali Yahya di Musim Mudik
Oleh: Prof. Dr. H. Achmad Tubagus Surur
Mudik, Perjalanan
Hati Menuju Tanah Air
Setiap tahun, saat
bulan puasa menjelang Lebaran, jalan-jalan Indonesia berubah jadi lautan
manusia bergerak. Mereka adalah para pemudik—pekerja migran dari kota besar
seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, yang pulang ke kampung halaman di Jawa
Tengah, Jawa Timur, atau daerah lain. Bayangkan: jutaan orang meninggalkan
rutinitas perantauan mereka, naik motor butut, bus antarprovinsi, atau kereta
padat, demi satu tujuan: rumah. Perjalanan ini bukan cuma fisik, tapi juga
emosional. Ada lelah, lapar, dan risiko kecelakaan, tapi juga haru saat melihat
papan nama desa tercinta.
Di sinilah muncul sosok Habib Luthfiy bin Ali Yahya, tokoh masyarakat dan agama di Pekalongan Raya. Bukan sekadar penceramah, Habib Luthfiy ajarkan cinta tanah air lewat aksi nyata: mendirikan posko mudik dan mengunjungi posko lain hingga Jawa Tengah. Baginya, ini bentuk kepedulian kemanusiaan yang lahirkan rasa nasionalisme alami. "Para pemudik itu saudara-saudara kita yang hidup merantau demi mencari dan memberikan nafkah keluarganya," ujarnya. Esai ini jelajahi bagaimana inisiatif sederhana ini jadi pelajaran besar: kemanusiaan sebagai akar cinta tanah air.
Siapa Para Pemudik dan Perjuangan Mereka?
Untuk pahami
dampak aksi Habib Luthfiy, kita harus kenal dulu siapa pemudik itu. Menurut
data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, ada sekitar 37 juta pemudik
Lebaran di Indonesia—mayoritas pekerja informal dari sektor manufaktur,
konstruksi, dan jasa. Mereka merantau ke kota demi upah lebih baik. Di tanah
rantau, hidup mereka keras: bangun subuh, kerja lembur, hemat setiap rupiah.
Uang kiriman bulanan ke keluarga di desa jadi penopang ekonomi
nasional—remitansi pekerja migran capai Rp 300 triliun setahun!
Perjuangan klimaks saat mudik. Banyak yang kumpulkan tabungan setahun untuk tiket pulang. Ada yang berkendara pribadi: motor Honda Beat atau Suzuki Address yang sudah uzur, bawa karung beras dan oleh-oleh. Lainnya numpang bus AKAP atau kereta api yang overload. Risikonya tinggi: Kementerian Perhubungan catat ribuan kecelakaan mudik tiap tahun, dengan korban jiwa ratusan. Cuaca buruk, jalan rusak, dan kelelahan jadi musuh utama.
Habib Luthfiy paham ini dalam-dalam. Lahir dan besar di Pekalongan, ia kenal betul budaya mudik Jawa Tengah. Wilayah Pekalongan Raya—termasuk Pekalongan, Batang, Pemalang—jadi koridor utama pemudik dari Jakarta ke Semarang atau Solo. "Mereka kumpulkan sedikit demi sedikit untuk kirim ke keluarga, lalu mudik dengan segala risiko," katanya. Bagi Habib, pemudik bukan statistik, tapi saudara yang butuh empati.
Inisiatif Habib Luthfiy: Posko Mudik sebagai Jembatan Kemanusiaan
Apa yang dilakukan
Habib Luthfiy? Mulai 2010-an, ia dirikan posko mudik di masjid-masjid dan balai
desa sekitar Pekalongan. Tak megah, tapi fungsional: tenda sederhana dengan air
minum dingin, bubur sumsum, sembako gratis, dan mekanik darurat untuk motor
mogok. Relawan lokal—pemuda karang taruna, ibu-ibu PKK—ikut andil. Setiap musim
mudik, posko ini layani ribuan orang.
Lebih dari itu, Habib rajin kunjungi posko lain. Ia keliling Jawa Tengah: dari Brebes, Tegal, hingga Kendal. Di setiap posko, ia bagi motivasi, shalat bareng, dan dengar cerita pemudik. "Dengan mendirikan posko dan mengunjungi posko pemudik, kita ikut merasakan apa yang sedang mereka lalukan," jelasnya. Ini bukan kompetisi dengan pemerintah, tapi pelengkap. Pemerintah punya Pos Lintas Batas Gabungan (PLBG) dan Satgas Mudik, tapi jumlahnya terbatas—hanya 1.200 posko nasional tahun lalu. Perusahaan seperti Honda atau Pertamina tambah posko korporat, layani servis roda dua/empat. Tapi inisiatif Habib unik: berbasis komunitas dan spiritual.
Contoh nyata: Tahun 2025, di Posko Mudik Masjid Al-Hidayah Pekalongan, Habib layani 5.000 pemudik dalam tiga hari. Seorang bapak dari Jakarta cerita: "Motor saya mogok di tengah hutan. Untung ada posko ini, Habib sendiri bantu dorong sambil cerita soal sabar." Kisah seperti ini bertebaran. Di kunjungan ke Posko Brebes, Habib bawa tim medis cek kesehatan gratis—banyak pemudik hipertensi karena stres perantauan.
Mengapa Ini Penting? Kemanusiaan sebagai Fondasi Cinta Tanah Air
Inti ajaran Habib:
kepedulian lahirkan cinta tanah air. Secara psikologis, ini masuk akal.
Psikolog Abraham Maslow bilang, manusia butuh rasa aman dan kepemilikan sebelum
capai aktualisasi diri. Pemudik, yang sering merasa terasing di kota, rasakan "kepemilikan"
saat masyarakat sambut mereka. "Dengan banyaknya kehadiran posko... mereka
para pemudik akan merasakan kehadiran dan kehangatan masyarakat di sepanjang
jalan yang mereka lalui," tegas Habib.
Dari sudut sosiologi, mudik perkuat ikatan sosial bangsa. Sosiolog Indonesia seperti Aidit bilang, mobilitas penduduk ciptakan "masyarakat transisi"—antara desa dan kota. Posko Habib jadi "titik transisi" yang hangatkan rasa nasionalisme. Pemudik pulang bukan cuma ke rumah, tapi ke Indonesia yang peduli. Ini kontras dengan narasi negatif: korupsi atau konflik sosial. Di posko, mereka lihat wajah bangsa yang bersatu.
Data dukung ini. Survei Kementerian Sosial 2024 tunjukkan, 85% pemudik merasa "lebih cinta tanah air" setelah mudik sukses, terutama yang dapat bantuan komunitas. Inisiatif Habib tunjukkan: nasionalisme tak perlu pidato besar, cukup air minum dan senyum.
Peran Pemerintah, Perusahaan, dan Komunitas
Pemerintah hebat
atur arus: tambah jalur tol Trans-Jawa, subsidi tiket kereta, dan drone pantau
lalu lintas. Tapi keterbatasan ada—anggaran terbatas, posko tak merata di
pelosok. Perusahaan seperti Yamaha atau Telkomsel buka posko branded: servis
oli, WiFi gratis, hiburan anak. Bagus, tapi terkesan komersial.
Komunitas ala Habib unggul di aspek emosional. Tak ada logo sponsor, cuma ikhlas. Ia gabungkan nilai Islam—zakat, infak, silaturahmi—dengan semangat gotong royong Pancasila. Hasilnya? Pemudik tak cuma istirahat fisik, tapi hati terobati. Seorang pemudik wanita dari Bekasi bilang: "Di posko Habib, saya nangis bahagia. Rasanya seperti pulang ke keluarga besar Indonesia."
Tantangan dan Solusi ke Depan
Tentu ada
hambatan. Cuaca ekstrem akibat perubahan iklim bikin mudik lebih berbahaya.
Pandemi lalu batasi mudik, tapi sekarang pulih. Biaya mudik naik—bensin mahal,
tiket bus Rp 500 ribu. Habib punya solusi: dorong desa siapkan posko permanen,
latih relawan digital untuk pantau via apps seperti WhatsApp grup mudik.
Ia juga ajak anak muda: "Jangan cuma like di medsos, turun tangan." Ini relevan di era Gen Z, yang sering dikritik apatis politik tapi peduli sosial.
Ajakan untuk Semua
Habib Luthfiy bin
Ali Yahya buktikan: cinta tanah air lahir dari kemanusiaan sederhana. Melalui
posko mudik di Pekalongan Raya hingga Jawa Tengah, ia ajarkan kita rasakan
susah senang saudara perantau. Ini bukan soal besar, tapi kecil yang
akumulatif: satu gelas air bisa selamatkan nyawa, satu kunjungan bisa bangun
bangsa.
Mari tiru. Pemerintah tambah posko, perusahaan ikut, tapi kita masyarakat yang jadi tulang punggung. Musim mudik selanjutnya, yuk dirikan posko di RT/RW, kunjungi yang ada, atau doakan pemudik selamat. Dari situ, Indonesia bukan cuma nama di peta, tapi rumah yang kita cintai bersama. Seperti kata Habib: saudara kita di jalan, saudara kita di tanah air.
0 Response to "Cinta Tanah Air dari Hati Kemanusiaan: Pelajaran Habib Luthfiy bin Ali Yahya di Musim Mudik"
Posting Komentar