Mengenang H. Kusnadi bin Tambah ; Jejak Kebaikan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Sore
itu, saya pulang kerja dengan langkah santai. Hari terasa biasa saja. Di tengah
perjalanan, istri menelepon, meminta dibelikan telur dan susu. Permintaan
sederhana, rutinitas rumah tangga yang tak pernah terasa berat. Saya membuka
ponsel kembali ketika sampai di Herma Jaya, dan di situlah dunia seolah
berhenti sejenak.
Kabar
itu datang tiba-tiba: bapak kritis.
Tanpa
berpikir panjang, saya urungkan niat membeli telur dan susu. Motor saya arahkan
lurus pulang ke rumah. Sesampainya di sana, suasana sudah berubah. Keluarga
telah berkumpul di kamar beliau. Tangis pecah. Kaget, tidak percaya, karena
sebelumnya bapak hanya pamit tidur, dengan pesan singkat namun kini terasa
sangat dalam: “aku meh turu ojo rame yo.”
Tak
ada yang menyangka, pamit itu adalah pamit terpanjang.
Warga
Dukuh Pengampon berdatangan. Rumah penuh. Banyak yang menangis, bukan sekadar
ikut berduka, tetapi merasa benar-benar kehilangan. Bapak bukan orang biasa di
mata kampung. Ia adalah tokoh, sandaran, dan teladan bagi banyak orang.
Entah
mengapa, setiap mengingat malam itu, dada saya selalu terasa sesak. Air mata
mudah jatuh. Karena bapak adalah gambaran ayah yang ideal, mengarahkan tanpa
memaksa, membimbing tanpa menggurui, menasihati bukan dengan kata-kata keras,
tetapi dengan contoh nyata.
Dari
bangun tidur hingga kembali merebahkan badan, hampir tak ada waktu beliau
habiskan untuk hal yang sia-sia. Hidupnya adalah pelajaran yang berjalan. Dan
ternyata, rasa kehilangan itu bukan hanya milik saya. Ia membekas di banyak
hati.
H.
Muslim, salah satu tokoh masyarakat, pernah menyampaikan bahwa Pak Kaji adalah
orang yang patut dicontoh. Ia bercerita, dulu Kyai Solihin, tokoh masyarakat
masa lalu, pernah kagum pada bapak. Kata beliau, biasanya orang jika sudah
berkorban pikiran, tidak mau berkorban tenaga. Jika sudah tenaga, enggan
berkorban harta. Tetapi Pak Kaji berbeda, ia mengorbankan semuanya.
Awalnya
H. Muslim hanya mendengar cerita. Hingga suatu hari, ia menyaksikan sendiri.
Saat
program pengaspalan jalan masuk Dukuh Pengampon, ada satu ruas jalan yang tidak
bisa dibangun karena statusnya tanah milik perorangan. Dana PNPM tidak boleh
digunakan. Ketika persoalan itu dimaturkan kepada bapak, beliau hanya menjawab
singkat, tanpa hitung-hitungan: “Aspal wae”. Jalan itu pun teraspal dan hingga
hari ini masih digunakan oleh masyarakat.
Pembangunan
TK pun berlangsung dengan kisah ketulusan yang serupa. Ketika rencana pendirian
TK dimatangkan, para pengurus datang matur kepada Pak Kaji. saat dimintai izin,
bapak tak banyak bertanya. Dengan nada tenang dan hati lapang, beliau hanya
berkata, “Ukur wae sakbutuhe TK.” Tanah tersebut bukanlah tanah warisan,
melainkan tanah yang beliau beli sendiri dari hasil jerih payahnya.
Tanah
itu pun diberikan dengan penuh keikhlasan, tanpa syarat, tanpa hitung-hitungan.
Dari sanalah berdiri ruang belajar formal pertama bagi anak-anak kampung,
tempat doa dan harapan masa depan ditanamkan.
Di
usia yang tak lagi muda, bapak kembali dipercaya menjadi ketua panitia
pembangunan Aula Baitun Naim. Amanah itu dijalani dengan kesungguhan penuh.
Beliau melobi banyak tokoh, menyatukan berbagai kepentingan, dan yang paling
berkesan, mengawasi pembangunan hampir setiap hari. Datang langsung ke lokasi,
memperhatikan setiap sudut, memastikan pondasi, dinding, dan atap terbangun
dengan baik. Pikiran, tenaga, dan perhatian beliau tercurah sepenuhnya. Aula
itu akhirnya berdiri megah, bukan semata sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai
monumen kerja ikhlas dan pengabdian tanpa pamrih.
Kiprah
bapak juga terasa kuat dalam perjalanan Pondok Al-Fusha. Saat proses pembebasan
tanah milik warga, beliau ikut membantu menjembatani, melunakkan, dan
menguatkan niat baik bersama. Dari proses itulah, hubungan bapak dengan Kyai
Dzilqon menjadi semakin dekat, jemaat, sahabat, sekaligus sesama pejuang jalan
sunyi pengabdian.
Bahkan
bapak dan ibu tak berhenti sampai di situ. Mereka membeli kamar di Pesantren
Al-Fusha, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan dengan niat agar hartanya
bisa menjadi jalan ilmu, menjadi bagian dari proses mengaji dan keberkahan yang
terus mengalir. Bagi bapak, harta terbaik adalah harta yang dipinjamkan kepada
kebaikan.
Semakin
hari, semakin terasa bahwa apa yang ditinggalkan bapak bukan sekadar kenangan,
melainkan jaringan amal yang terus bekerja dalam diam, di ruang kelas, di aula,
di pesantren, dan di hati orang-orang yang pernah disentuh ketulusannya.
Sehingga
tidak salah ketika Pak Yai Dzilqon berkata bahwa bapak adalah orang yang
mencintai agama, dan mencintai siapa pun yang mengabdikan diri untuk mengurusi
agama.
Kepergian
bapak juga meninggalkan kehilangan-kecil yang justru terasa sangat besar. Ada beberapa
yang menulis status WhatsApp: “Orang yang biasa mengantarkan jamu tidak akan
mengantarkan lagi jamu pagi ini.”
Hal
sederhana, tetapi itulah bapak, hadir dalam rutinitas orang lain tanpa banyak
bicara.
Saat
takziah, rumah penuh sesak. Orang datang dari berbagai tempat. Baru saat itu
terasa: ternyata sebanyak ini orang yang merasa kehilangan. Semua sedih. Semua
merasa kehilangan tokoh yang luar biasa.
Bahkan
di luar kampung, kenangan tentang bapak tetap hidup. Ketika saya membeli nasi
goreng di Kampung Rowocacing, wafatnya bapak masih menjadi bahan cerita.
Orang-orang mengenang bagaimana beliau ikut membangun ekonomi dengan
mengenalkan kompetisi usaha di Dukuh Larangan, hingga wilayah itu berkembang.
Bapak
juga dikenal oleh sekolah dasar. Di masa ketika mobil hanya dimiliki segelintir
orang, beliau sering meminjamkan mobilnya untuk keperluan sekolah. Bahkan bukan
hanya meminjamkan, beliau sendiri yang menjadi sopirnya, menyiapkan bensin,
tanpa pamrih. Semua itu membuat satu hal menjadi jelas:
Bapak tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi jejak kebaikan.
Masih
banyak cerita tentang bapak yang tidak dapat kami tuliskan semuanya di sini.
Namun setiap orang yang pernah bersentuhan dengan beliau, menyimpan kenangan
dan pelajaran masing-masing di dalam hati. Hal itu terasa jelas saat takziah
berlangsung orang-orang datang silih berganti, bukan hanya untuk mendoakan,
tetapi juga untuk bersaksi tentang kebaikan beliau.
Ada
yang mengenang ketulusannya, ada yang bercerita tentang bantuan yang datang
tanpa diminta, ada pula yang mengingat nasihat sederhana yang justru mengubah
jalan hidupnya. Dari mulut ke mulut, dari satu kisah ke kisah lain, kebaikan
bapak seolah hidup kembali, mengalir di antara doa dan air mata.
Saat
itu kami sadar, bapak tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal dalam ingatan
banyak orang, dalam cerita yang terus disampaikan, dan dalam pelajaran hidup
yang diam-diam membentuk siapa kami hari ini.
Hari
ini, bapak memang telah tiada. Namun kebaikannya masih hidup, di jalan yang
dilalui orang setiap hari, di sekolah yang berdiri, di aula yang ramai, di
cerita-cerita yang terus diulang, dan di hati banyak orang yang pernah disentuh
oleh ketulusannya.
Kami
kehilangan sosok. Namun kampung ini mewarisi teladan.
Semoga
Allah SWT menerima seluruh amal kebaikan beliau, mengampuni segala khilafnya,
dan menempatkan H. Kusnadi bin Tambah di tempat terbaik di sisi-Nya.
Aamiin.
.jpeg)
0 Response to "Mengenang H. Kusnadi bin Tambah ; Jejak Kebaikan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi"
Posting Komentar